Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

CERITA ISLAM


CERITA ISLAM
Balasan KesabaraN
Anas bin Malik r.a. berkata, "Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia." Maka, istrinya berkata kepada keluarganya, 'Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya'!"
Anas bin Malik berkata, "Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum, sang istri kemudian berdandan indah, bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang istri bertanya, 'Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?' Ia berkata, 'Tidak (berhak)!' 'Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang putramu (yang telah diambilnya kembali)!' kata sang isteri. Suaminya menyergah, 'Engkau biarkan aku, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?' Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah saw. lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi."
"Maka, Rasulullah saw. bersabda, 'Semoga Allah memberkahi kalian berdua tadi malam.' Anas berkata, 'Lalu istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Nabi saw.' Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi saw. lalu mengambil anak itu seraya berkata, 'Apakah dia membawa sesuatu?' Mereka berkata, 'Ya, beberapa buah kurma,' Nabi saw. kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi itu, dan beliau menamainya Abdullah." (HR Al-Bukhari).
Dalam riwayat Al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata, "Seorang laki-laki dari shahabat Ansar berkata, 'Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Alquran, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi saw. mencandainya seraya berkata, 'Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit'?''
Dalam riwayat lain, lihat Baradul Akbad hlm. 25 disebutkan, "Ia berkata, 'Maka istrinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah saw. bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil.' Kepada beliau ditanyakan, 'Bagaiman beritanya wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang. Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang istri tidak hendak mengganggu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya, 'Di mana anak-anakku?' Istrinya menjawab, 'Di dalam rumah.' Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka melakukan jimak. Sang suami kembali bertanya, 'Di mana anak-anakku?' 'Di dalam rumah,' jawab istrinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. 'Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang istri terperanjat, 'Subhanallah, Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah menghidupkannya kembali sebagi balasan dari kesabaranku!"

Selasa, 10 Juni 2014

GARAM DAN TELAGA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu ‎pagi, datanglah seorang anak muda yang ‎sedang dirundung ‎banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. ‎Tamu itu memang ‎tampak seperti orang yang tak bahagia.‎
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua ‎masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya ‎mendengarkannya ‎dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan ‎meminta tamunya ‎untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya ‎garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. ‎‎“coba minum ‎ini, dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak tua itu.‎
‎“Pahit, pahit sekali”, jawabsang tamu, sambil meludah ke ‎samping.‎
Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ‎untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan ‎dekat tempat ‎tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan ‎akhirnya sampailah mereka ‎ke tepi telaga yang tenang itu.‎
Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ‎ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ‎dibuatnya ‎gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ‎ketenangan telaga itu. “Coba ‎ambil air dari telaga ini, dan ‎minumlah.” Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak tua berkata ‎lagi, ‎‎“Bagaimana rasanya?” ‎
‎“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam ‎di dalam air itu?”, Tanya pak tua lagi. ‎‎“Tidak”, jawab si anak muda.‎
Dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si ‎anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk ‎berhadapan, bersimpuh ‎di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya ‎kehidupan, adalah ‎layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak ‎kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan ‎memang ‎akan tetap sama.‎
‎“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat ‎tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan ‎itu, akan ‎dirasakan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu ‎semua tergantung pada hati ‎kita. Jadi, saat kamu merasakan ‎kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang ‎bisa ‎kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. ‎Luaskanlah hatimu untuk menampung ‎setiap kepahitan itu.”‎
Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu ‎adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat ‎itu. Kalbumu ‎adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan ‎hatimu itu seperti ‎gelas, buatlah ia laksana telaga yang mampu ‎meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi ‎kesegaran ‎dan kebahagiaan.”‎

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama ‎belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, ‎kembali ‎menyimpan ‘segenggam garam’, untuk anak muda yang lain, ‎yang sering datang padanya ‎membawa keresahan jiwa.‎

MISI HIDUP DALAM SEBUAH KERJA


Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum ‎jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi ‎bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan ‎dan kuli angkot yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi ‎dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa ‎bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa ‎murah.‎

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang ‎dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita ‎itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit ‎sabun.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali ‎lagi ia terkekeh, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa ‎yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil ‎menunjukkan para kuli yang kini berlompatan ke atas truk ‎pengantar mereka ke tempat kerja.‎

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup ‎dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami ‎benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang ‎bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang ‎penyangga yang menahan langit agar tak runtuh. Merekalah ‎beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras ‎berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah ‎demikian tugas kita dalam kerja? Menghadirkan secercah ‎kesejahteraan bagi sesama.‎

MUSLIM AWAM MEMBUNGKAM OCEHAN INTELEK ‎LIBERAL TENTANG KHILAFAH

PERNYATAAN INTELEK LIBERAL
Salam, Orang yang masih percaya "negara agama universal", apapun namanya: negara universal Kristen (seperti terjadi di zaman abad pertengahan) atau negara khilafah, sama dengan orang yang masih percaya bahwa bumi itu datar, atau bumi itu dikelilingi matahari.
Sejarah bergerak terus, dan bentuk negara agama (termasuk negara khilafah) sudah menjadi bagian dari masa lampau, dan sebaiknya disimpan di museum saja: enak ditonton, tapi tak usah dihidup-hidupkan lagi. Dinosaurus memang enak ditonton, tetapi kalau dihidupkan lagi pasti akan menakutkan banyak orang.
Jikapun negara khilafah itu didukung oleh argumen agama, maka saya tak peduli. Dalil agama bukan dalil yang harus bertahan permanen. Banyak teks agama yang harus dibatalkan, karena sudah tak masuk akal.

TANGGAPAN MUSLIM AWAM
Saya justru tidak habis pikir bila masih ada orang yang menganggap mustahil berdirinya kembali khilafah. Keterlaluan dangkal dan piciknya pandangan mereka. Apakah visi mereka terkena rabun jauh sehingga hanya mampu menjangkau satu abad atau satu generasi atau malah hanya satu dekade ke depan? Atau barangkali ada bagusnya kita bersangka baik --atau buruk?-- bahwa mereka itu sebetulnya hanya berpura-pura menutup dan memicingkan mata; sebagai bentuk ghazwul fikri untuk menghapus cita-cita --atau katakanlah utopia-- khilafah itu dari benak kaum muslimin.
Khilafah bagi kaum muslimin --sekarang ini-- memang merupakan impian indah yang tidak mustahil --bahkan pasti-- terwujud kelak, tapi merupakan mimpi buruk bagi kaum kuffar, zindiq dan munafiq. Segala daya dan kekuatan mereka kerahkan untuk membendung geliat ummat Islam (saya tidak berbicara tentang HT dan saya bukan HT) ke arah itu. Saya kira mereka yang sedikit bervisi tajam, bisa membaca kegelisahan, kekuatiran bahkan mungkin sudah sampai pada tingkat kepanikan mereka menghadapi kemungkinan berulangnya kembali sejarah khilafah.
Konyolnya kamu mengangkat si Dino sebagai tamsil kemustahilan kebangkitan kembali khilafah. Dinosaurus memang sudah musnah dan tinggal fosil. Tapi manusia, muslim militan, mujahid dakwah masih eksis hingga sekarang. Calon khalifah setiap saat bisa lahir dari rahim kaum hawa (ataukah anak-cucu Adam dan Hawa juga telah musnah seperti Dino?).
Harap dibedakan tingkatan maknanya antara cita-cita, utopia (khayalan) dan impossible (mustahil).  Cita-cita berarti suatu target yang secara realitas mampu diraih. Seperti seorang anak yang rajin belajar bercita-cita kelak jadi doktor. Utopia berarti suatu keinginan yang secara realitas "nyaris" (99%) tidak mungkin tercapai. Misalnya Indonesia berencana mencaplok Amerika dalam waktu dekat ini. Sedangkan mustahil berarti sesuatu yang memang tidak mungkin terjadi. Contohnya kamu ingin hidup seribu tahun lagi. Bagaimana dengan khilafah? Khilafah sudah pernah terjadi jadi jelas bisa dan bukan mustahil. Persoalannya tinggallah utopia ataukah cita-cita.
Khilafah adalah utopia bila realitas eksternal dan internal ummat Islam --secara manusiawi-- belum memungkinkan. Dan dia beralih menjadi sebuah cita-cita bila kualitas dan kuantitas keberagamaan dan keduniawian ummat Islam telah mencapai taraf tertentu. Nah, berbicara tentang realitas (situasi dan kondisi), hanya orang dungu yang menyangka realitas tidak bisa berubah secara ekstrim, baik dalam jangka pendek apalagi panjang.
Saya jadi teringat dengan ungkapan Albert Einstein ketika --tidak lama setelah Nagasaki dan Hiroshima dilumat bom atom dalam Perang Dunia Kedua-- ditanya: bisakah anda memberi gambaran kira-kira bagaimana kemampuan persenjataan bila terjadi PD III? Dengan mata tajam menerawang dia menjawab: saya tidak mampu menerangkan bagaimana model senjata PD III; tapi agaknya saya bisa membayangkan senjata apa yang dipakai di PD IV. Sedikit heran, si penanya tak sabaran: senjata apa itu? Einstein menjawab dengan ketus dan serius: KAPAK.
Apa maksudnya? Bila PD III benar-benar meletus maka --menurut prediksi Einstein sang arsitek bom atom-- jarum sejarah ummat manusia akan berputar kembali ke zaman batu (sebut saja zaman neo-batu). Infrastruktur teknologi dan peradaban yang dibangun dan dibangga-banggakan sekian lama, hancur tidak bersisa. Sehingga bila terjadi PD IV (mungkin di zaman neo-perunggu) tidak bisa lain, orang bersenjatakan kapak perang. Saya tidak ingin ikut-ikutan berprediksi futuristik bahwa boleh jadi peristiwa Dajjal dipenggal lehernya oleh Nabi Isa (seperti informasi Nabi) terjadi di zaman itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa perubahan realitas secara spektakuler adalah hal yang lumrah dan biasa, bisa terjadi setiap saat. Jangan terpaku dan termangu dengan kebekuan dan kebuntuan masa kini.
Bayangan bakal terjadinya perang dunia ketiga dengan model senjata pemusnah (bukan lagi massal) tapi global merupakan horor yang sangat menakutkan negara-negara "maju" yang justru mereka sendiri yang membuat dan menyimpannya. Lihatlah betapa sinting dan rapuhnya peradaban yang katanya maju ini. Lebih bodoh dan goblok lagi karena mereka pun memandang geliat kebangkitan khilafah sebagai teror yang tidak kalah menakutkannya. Padahal khilafah merupakan institusi kepemimpinan ummat Islam yang berlandaskan dan berpedoman dengan aqidah dan syariat Islam itulah yang akan mengarahkan dunia menuju peradaban yang tidak hanya mengusung HAM (Hak Asasi Manusia) tapi terlebih lagi menjunjung tinggi HAT (Hak Asasi Tuhan).
Sekali lagi, utopia, cita-cita atau realita? Ketiga-tiganya benar pada ruang dan waktunya masing-masing. Tugas kita sekarang adalah berusaha berislam dengan baik sesuai Sunnah Nabi dan Sunnah al-Khulafa' ar-Rasyidun serta orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat agar khilafah berubah dari utopia menjadi cita-cita dan seterusnya menjadi realita. Kemungkinan besar kita tidak ikut menyaksikan terwujudnya khilafah itu, tapi yang penting adalah kita sudah berada dalam barisan panjang jama'ah muslimin yang ikut memimpikan, mewacanakan, mengarahkan, merintis hingga membidani lahirnya khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah di akhir zaman kelak. 

Jadi jangan dihiraukan ocehan orang-orang liberal yang tidak percaya dengan janji-janji Tuhan dan tidak mengenal yang namanya militansi perjuangan dalam Islam. Walhasil, apapun yang diomongkan oleh kaum liberal, semua itu hanyalah ekspresi kebencian dan ketakutan mereka terhadap Islam dan khilafah.